Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

Kyai Landoh : The Legend of Lendah Village (Legenda Desa Lendah)

0 komentar
Saridin a desseminator of islamic religion from Iran. He left his house to penetrate religion knowledge so he could restore situation in Iran which full of distrubance situation. After getting permission from his parents, he went to wander. After a few days, he finally arrived in java north beach and there was Demak kingdom (the first islam kingdom in Java).
The name of walisongo had been famous until the country hamlet. One of walisongo was Sunan Kalijaga. One day Saridin met Sunan Kalijaga and explained his purpose to come to Java. Finally, Sunan Kalijaga accepted Saridin to be a student. Saridin learned the knowledge from Sunan Kalijaga. After learning for a few days, Saridin could show his capability. So Saridin was requested to teach other people and Sunan Kalijaga delegated him to deepen his knowledge with Sunan Kudus in Kadilangu.
After he came to Kadilangu, Saridin consigned message from Suan Kalijaga for accepting Saridin to be his student. Sunan Kudus accepted Saridin with pleasure. In this place saridin could learn many lessons, that for traveling life in this world, people must always try with their hand and shouldn’t suspend to other people. In Java philosophy it’s famous with “ yen kepengen ngombe nimboo,yen kepengen dhahar ngupadio”. 
 Saridin’s capability was also detected by Sunan Kudus. Sunan Kudus wanted Saridin to show his superanatural powers. And then he showed his superanatural powers by bringing water in the basket without shed. Not only that, he also could prove his certainly “if there is water sure there is fish”. Absolutely it made Sunan Kudus’s heart surprised because of that thing impossible to be done by other people. Seeing his potency, Sunan Kudus gave title “syekh” to Saridin. Sunan Kudus concluded Saridin could help him to broadcast islam religion in other zone. And then Sunan Kudus instructed him to go to Palembang.
In order to be saved in his jorney, Sunan Kudus gave “setangkep kelapa”, ”bathok bolu”, and “kudi rancang weapon”. Setangkep kelapa had meaning to be ship to wade through the ocean. Bathok bolu and kudi rancang weapon were things which could be used to reject misfortune to help Saridin. By setangkep kelapa Saridin went to Palembang. Accidentally, in Palembang was assaulted disaster, the people called it pageblug. Pageblug was such as infected illness. Saridin who had been there at that time promptly met the king of Palembang and extended his purpose. With pleasure the king accepted Saridin and hoped Saridin could help that problem. At that moment he remembered with the things from Sunan Kudus which could help Saridin to reject misfortune and cured diseases. So with the instruction from God, he prayed in order to disaster pageblug make disappeared and people became healthy again.
God listened Saridin’s wish. Not long after that, the disaster had gone little by little. With that success, many people wanted to learn about Saridin’s knowledge. Because of Saridin’s success, the king felt thankfully and approved to marry Saridin with one of his daughters, Retna Diluwih. After getting married, Saridin and his wife went to Java. Not long after that, they arrived at Mentaok, Mataram.
Saridin’s presence was detected by the king of Mataram, Panembahan Senopati. He interested and wanted to meet Saridin. And then, he instructed his watchman to bring Saridin to the palace. So, Saridin and the watchman went to the palace to meet the king.
Panembahan Senopati welcomed Saridin happily. The king wanted Saridin to share his knowledge because he heard that Saridin owned greatness on everything, especially on religion.
Panembahan Senopati asked Saridin to show his supernatural power. With modesty, Saridin showed his supernatural power. He confessed Saridin’s greatness and realized that his capability was not comparable with Saridin. Therefore, he gave title of respect “Syeh Jangkung” to Saridin. He also married his younger sister, Raden Ayu Retna Jumali to Syeh Jangkung.
Then, Panembahan Senopati gave assignment to Syeh Jangkung to disseminate Islamic religion in the west of Progo river. Not long after that, Syeh Jangkung’s entourage arrived in the west of Progo river. At that time, buffalos were cattle which maintained by most people. Majority buffalos there had grayish white color, so it called “kebo bule” or “kebo lando”. “Kebo” was buffalo in English, “bule” refered to strangers who usually had light skin.
When he arrived there, Syeh Jangkung built a lodge. One day, Syeh Jangkung was given a buffalo “kebo lando” by his student beause he had save his buffalo’s life. Therefore, he also often called Kyai Landoh (lendah) and nowadays that place known as Lendah village. There Kyai Landoh also built a mosque named “Masjid Landoh” (now Masjid Al-Furqon)
After doing a lot of kindness, Syeh Jangkung passed away. Suitable with his determination, he was interred in Lendah village.

Minggu, 15 Februari 2015

Sejarah Perkembangan Budidaya Udang

0 komentar
  Udang telah dibudidayakan beberapa abad silam di kawasan Asia dengan padat penebaran yang rendah dan teknologi yang masih bersifat tradisional. Media budidaya air payau di Indonesia yang lebih dikenal sebagai tambak berdasarkan sejarahnya telah dimulai pada abad ke 15. Udang pada saat itu telah dibudidayakan dengan menggunakan tambak yang berukuran kecil dengan sistem monoculture ataupun dibudidayakan bersama dengan biota lainnya (polyculture) seperti ikan bandeng, selain itu periode budidaya udang ini juga dilakukan dilakukan pada saat musim kemarau untuk menggantikan kegiatan bertanam padi, karena pada saat musim kemarau padi tidak dapat tumbuh.

Kegiatan budidaya udang juga sering dilakukan di kawasan pantai ataupun di tepian sungai. Kawasan hutan bakau merupakan kawasan yang dianggap cocok sebagai kawasan budidaya udang karena kelimpahan alaminya merupakan sumber pemasok nutrisi bagi udang. Benih-benih udang (benur) yang diperoleh dari habitat alaminya kemudian dibesarkan di dalam petakan tambak hingga mencapai ukuran yang ditentukan untuk dipanen.

Budidaya udang skala industri telah dimulai sekitar tahun 1930 an, ketika udang dari jenis Kuruma (Penaeus japonicus) dibudidayakan pertama kalinya di Jepang. Tahun 1960 an, industri budidaya udang skala kecil telah bermunculan di Jepang. Budidaya udang yang dikelola secara komersial mulai dilakukan pada akhir tahun 1960 an dan awal tahun 1970 an. Teknologi tingkat lanjutan mulai diterapkan untuk mengelola tambak secara lebih intensif, dan meningkatnya permintaan pasar terhadap udang memacu perkembangan jumlah usaha budidaya udang di dunia terutama di daerah tropis dan sub tropis. Sejalan dengan menurunnya produksi udang hasil tangkapan pada awal tahun 1980 an menyebabkan pesatnya perkembangan usaha budidaya udang di dunia. Pada era tersebut Taiwan merupakan pelopor usaha budidaya dan produsen terbesar udang, tetapi pada tahun 1988 usaha tersebut mengalami penurunan secara drastis yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan praktis dan wabah penyakit udang.

Di Thailand usaha budidaya udang secara intensif pada skala besar berkembang secara cepat pada tahun 1985 an. Untuk wilayah Amerika Selatan usaha budidaya udang dipelopori oleh Ecuador yang mengalami perkembangan secara pesat mulai tahun 1978. Brazil mulai aktif mengembangkan usaha budidaya udang sejak tahun 1974 dan berkembang secara pesat hanya pada tahun 1990 an dan pada tahun itu Brazil merupakan produsen terbesar udang selama beberapa tahun. Sampai saat ini usaha budidaya udang telah berkembang di lebih dari 50 negara di dunia.
 

Salsabila Atalieani ♛ Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template